Saturday, January 26, 2008

Kujang Senjata Khas Jawa Barat

Simbol Kejataman dan Daya Kritis Pola Pikir

Kujang Senjata Khas Jawa Barat

HAMPIR sebagian besar masyarakat Jawa Barat mengenal Kujang. Namun, tak banyak dari mereka yang dapat mengetahui secara mendalam latar sejarah ataupun simbol di balik Kujang. Kujang hanya dikenal sebatas sejenis senjata khas Sunda dengan bentuk yang meruncing. Selebihnya mungkin, Kujang hanya dikenal sebagai lambang pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Senjata tradisional khas Jawa Barat Kujang.*

Bukan itu saja, meski masyarakat Jawa Barat meyakini Kujang sebagai simbol dari sebuah kebesaran masyarakat Sunda dan cenderung dipandang memiliki kekuatan magis, tak banyak literatur yang memberi penjelasan tentang perkakas ini. Beruntunglah, SundaNet.com sebagai satu-satunya portal kesundaan yang cukup eksis dapat memberikan informasi tersebut.

Sehingga keterbatasan mengenai informasi tersebut dapat dijembatani oleh sebuah ruang maya yang tak lagi berbatas ruang dan waktu.

Lambang Jawa Barat

Kujang menurut SundaNet.com adalah sebuah senjata unik baik dari segi bentuk maupun kesejarahannya. Kujang secara umum telah diakui sebagai milik asli Sunda. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Lebih dari itu Kujang adalah lambang Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat. Apa sebenarnya yang istimewa dari Kujang? Mengapa ia dikesankan sakral dan memiliki daya magis? Mengapa Jawa Barat memilih Kujang sebagai lambang dan bukan benda lain? Beberapa pertanyaan itu menarik untuk dikaji lebih jauh. Walau tak banyak sumber (literatur) yang dapat memberikan informasi tentang itu.

Meski demikian, data ataupun informasi tentang Kujang beberapa di

antaranya tercantum dalam Pantun Bogor, Wawacan Terah Pasundan, Keris and Other Weapon of Indonesia, termasuk sumber-sumber lisan di wilayah Bandung, Sukabumi, Panjalu (Ciamis), Sumedang, Cirebon, dan Garut.

Data tertulis lainnya dapat diperoleh dari Anis Djatisunda, seorang peneliti lapangan ahli Kanekes yang tinggal di Sukabumi. Anis telah menyusun makalah (1996) berjudul "Kujang Menurut Berita Pantun Bogor" yang disiapkannya untuk sebuah gatrasawala mengenai kujang tetapi batal dilaksanakan. Keterangan lain dapat diperoleh dari buku Wacana Nonoman Terah Pasundan karangan Kadar Rohmat dan H.S. Ranggawulya. Data ini diperoleh dari buku Keris and Orther Weapons of Indonesia karangan Mubirman, Profil Propinsi Republik Indonesia (Jawa Barat), dan Pengabdian DPRD DT. I Jabar yang ketiganya ditemukan di perpustakaan Pemda Jabar.

Sementara brosur dari Gosali Pamor Siliwangi pimpinan Bayu S. Hidayat dapat menjadi pelengkap, sebab perajin Tosan Aji adalah seorang yang secara sadar berniat melestarikan kujang sebagai cindera mata yang berkelas. Dari tulisan Baju diperoleh informasi mengenai teknik pembuatan kujang yang sudah menggunakan teknologi muktahir.

Tajam dan kritis

Bila merujuk pada uraian SundaNet.com, maka dapat ditarik satu benang merah bahwa Kujang merupakan sebuah perkakas yang notabene mereflesikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan. Utamanya pada saat diterapkan sebagai lambang Jawa Barat, Kujang menjadi sebuah simbol bahwa masyarakat Jawa Barat (Sunda) adalah masyarakat yang juga tajam dan kritis dalam memandang dan menjalani setiap perjalanan kehidupannya.

Melihat pada bentuk, fungsi, dan "sertifikasi" para pemakai alat ini, membuktikan Kujang bukanlah semata-mata perkakas biasa. Tetapi sebuah senjata khas yang peruntukannya hanya digunakan oleh orang-orang tertentu dengan kriteria-kriteria tertentu. Alih-alih demikian, maka dapat ditafsirkan, bahwa masyarakat Jawa Barat dengan Kujang sebagai pelambangnya adalah sebuah masyarakat yang gagah berani, dan bukan orang sembarangan ataupun orang kebanyakan. Baik itu dalam karakter individu maupun kolektif masyarakat Kesundaan. Seperti yang terkandung dalam filosofi pangadegna.

Bukan itu saja, dengan Kujang sebagai pelambang, masyarakat Sunda

maupun masyarakat internasional lainnya dapat mengetahui sebuah alur penelusuran sejarah tentang kerajaan Pajajaran. Seperti dalam tulisan-tulisan tentang Kujang yang menyuratkan ataupun menyiratkan tentang itu. Sebuah "jalan" yang tentu saja memerlukan penguatan, dukungan, serta analisis terhadap sumber-sumber lainnya tentang Kujang. Sehingga lewat Kujang tergerak semacam upaya penelusuran asal usul. Terlebih Kujang tidak saja dikenal sebagai senjata khas Sunda ataupun cindera mata

dari sebuah gift shop yang dibeli saat meninggalkan Parahyangan tetapi juga sebuah lambang masyarakat bernama Jawa Barat. Lambang Masyarakat Sunda.

Kelompok Tertentu

Sekalipun Kujang identik dengan keberadaan kerajaan Pajajaran pada masa silam, namun berita Pantun Bogor (PB) tidak menjelaskan alat itu dipakai oleh seluruh masyarakat Sunda secara umum. Perkakas ini hanya digunakan kelompok tertentu seperti para raja, prabu anom, golongan pangiwa, panengen, golongan agamawan, para putri serta golongan kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Sedangkan rakyat biasa menggunakan perkakas-perkakas lain seperti golok, congkrang, sinduk, dan sebagainya. Kalaupun ada yang menggunakan Kujang, sebatas jenis pemangkas untuk keperluan berladang.

Setiap pemakai Kujang, mempunyai konvensi pembagian bentuk. Hal tersebut ditentukan status sosial masing-masing. Bentuk Kujang untuk raja tidak akan sama dengan Kujang Balapati atau barisan pratulap dan seterusnya. Melalui pembagian tersebut akan tergambar tahapan fungsi para pejabat yang tertera dalam struktur jabatan Pemerintahan Negara Pajajaran Tengah, seperti Raja, Lengser dan Brahmesta, Prabu Anom, Bojapati; Bopati Panangkes atau Balapati, Geurang Seurat, Bopati Pakuan diluar Pakuan; Patih termasuk Patih Tangtu dan Mantri Paseban; Lulugu; Kanduru; Sambilan; Jero termasuk Jero Tangtu; Bareusan,guru, Pangwereg dan Kokolot.

Jabatan Prabu Anom sampai Berusan, Guru juga Pangwereg, tergabung di dalam golongan Pangiwa dan Panengen. Tetapi dalam pemakaian Kujang ditentukan oleh kesejajaran tugas dan fungsinya masing-masing, seperti Kujang Ciung Mata-9 dipakai hanya oleh raja;. (Eriyanti N.D./"PR")***

KUJANG

KUJANG: Senjata Khas Urang Sunda

"...Ganjaran nu belapati, satria santosa iman, Raden teu burung dileler, jimat kujang nu utama, pikeun neruskeun lampah, pangjurung ngapung ka manggung, pamuka lawang ka Sunan. Cangkingan lalaki langit, wangkingan lalanang jagat, wewesen leber wawanen, saratna sapira kujang nanging jadi lantaran, Sunan Ambu mikayungyun, para jawara ngaraksa. Kujang the dipake ciri, pusaka Tanah Pasundan, ciciren gede wewesen, pantang lumpat ngandar jangjang, ngeok eleh ku bikang, saur galur nu cacatur, kujang dua pangadekna..."

Kujang adalah sebuah senjata yang unik dari segi bentuk dan kesejarahannya. Hampir setiap orang mengenal nama Kujang, namun belum tentu bisa menjawab secara mendalam, baik itu dari sisi bentuk maupun refleksi keberadaannnya dalam kehidupan para penggunanya di masa lalu. Dari berbagai sumber, al. Pantun Bogor, Wawacan Terah Pasundan, Keris and Other Weapon of Indonesia, penulis mencoba mengungkap fungsi, bentuk serta stratifikasi pemakaiannya dalam masyarakat dimasa lalu.

Tulisan yang dibuat oleh Sdr. Iip Zulkifli Yahya dan telah diterbitkan di Majalah Panggung Edisi Desember 2000 ini sengaja ditampilkan secara berurutan beberapa episode di SundaNet.com yang intinya diharapkan bisa mengungkap berbagai hal tentang kujang, yang tidak hanya semata-mata, dimasa kini, muncul sebagai cinderamata, namun juga mengungkap nilai filosofi dalam bertindak, seiring dengan kandungan dua pangadegna, yang merefleksikan adanya dua sisi ketajaman kritis dalam kehidupan, baik itu dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan kolektifnya (Redaksi).

Kujang, secara umum telah diakui sebagai milik asli urang Sunda. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cinderamata. Lebih dari itu kujang adalah lambang Pemerintah Daerah Jawa Barat. Apa sebenarnya yang istimewa dalam kujang? Mengapa ia dikesani sakral dan memiliki daya magis? Mengapa ia yang dipilih sebagai lambang Jabar dan bukan benda yang lain? Beberapa pertanyaan itu menarik untuk dikaji lebih jauh. Sebab informasi mengenai kujang sangatlah sedikit, untuk tidak menyebutnya belum ada.

Dalam literatur mengenai Jawa Barat, bahkan dalam buku-buku yang diprakarsai penerbitannya oleh Pemda Jabar, kujang banyak dikupas. Istilah kujang yang sedemikian populer itu, agaknya belum cukup layak untuk masuk sebagai salah satu entry dalam ensiklopedi nasional Indonesia. Kenyataan ini tentu saja sangat memprihatinkan. Sekalipun sangat terlambat, penelitian tentang kujang tetap perlu dilakukan. Karena kujang tidak saja "terlanjur" dijadikan lambang Pemda Jabar dan diakui senjata khas urang Sunda, tetapi melalui kujang inilah salah satu alur penelusuran kebesaran kerajaan Pajajaran diharapkan bisa kita tapaki. Melalui tulisan ini, penulis coba ketengahkan beberapa data dan analisa mengenai kujang. Penelitian ini memang baru sebuah awal dari upaya mapay raratan kujang yang diharapkan bisa melengkapi hasil-hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya dan menjadi acuan untuk penelusuran lebih lanjut.

Meneliti benda yang sangat dikenal namun minim literatur, sungguh sangat menantang. Hampir semua urang Sunda mengenal kujang. Namun ironisnya, tidak banyak dari mereka yang bisa menerangkan hal ihwal senjata khas itu. Dengan tetelepek, mencakup wilayah Bandung, Sukabumi, Panjalu (Ciamis), Sumedang, Cirebon, dan Garut, sedikit informasi mengenai kujang bisa diperoleh. Dari enam daerah tersebut diperoleh data lisan dan data tertulis. Dari data lisan yang diperoleh melalui wawancara, secara umum informasi mengenai kujang masih berupa dugaan-dugaan. Hal ini masih menguatkan kritik atas urang Sunda yang malas mencatatkan segala sesuatu mengenai sejarah karuhun dan daerahnya sendiri. Sehingga banyak informasi penting tentang Sunda yang tercecer, dan saat dibutuhkan justru harus membuka literature berbahasa asing.

Sementara data tertulis terpenting diperoleh dari Anis Djatisunda, seorang peneliti lapangan ahli Kanekes yang tinggal di Sukabumi, ia telah menyusun sebuah makalah (1996) berjudul "Kujang Menurut Berita Pantun Bogor" yang disiapkannya untuk sebuah gatrasawala mengenai kujang yang saat ini batal dilaksanakan. Sedikit keterangan yang menarik diperoleh pula dari buku Wacana Nonoman terah Pasundan karangan Kadar Rohmat dan H.S. Ranggawulya. Data ini diperoleh dari buku "Keris and Orther Weapons of Indonesia" karangan Mubirman, "Profil Propinsi Republik Indonesia (Jawa Barat)", dan "Pengabdian DPRD DT. I Jabar", yang ketiganya ditemukan diperpustakaan Pemda Jabar. Sementara "brosur" dari Gosali Pamor Siliwangi pimpinan Bayu S. Hidayat menjadi pelengkap, sebab perajin tosan aji ini adalah salah seorang yang secara sadar berniat melestarikan kujang sebagai cinderamata yang berkelas. Dari tulisan Baju diperoleh informasi mengenai teknik pembuatan kujang yang sudah menggunakan teknologi muktahir. (SundaNet.com)

SEJARAH TASIKMALAYA


Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih,

Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya. Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung .

Etnis Sunda ?



Etnis Sunda bukan muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakan Allah SWT bersama-sama etnis yang lain dengan maksud saling mengenal. Yang paling mulia dari antara bangsa-bangsa itu ialah yang paling takwa (Q.S. 49:13). Orang Sunda mencintai Sunda dan segala yang berkait kepadanya, merupakan tanda syukur kepada Penciptanya. Karena itu, perjuangan Ki Sunda memuliakan Sunda bisa menjadi ibadah.

Kata orang bijak, "Sebuah peperangan dimulai di satu ruangan." Walau tidak semua pembicaraan mewujud, tetap bangkitnya Sunda akan merupakan suatu peristiwa besar dan pasti akan berawal dari wacana. Agar wacana kita bisa menjadi kenyataan yang menguntungkan, bukan hanya marebutkeun paisan kosong mari kita arahkan wacana kita ke sana. Untuk itu diperlukan bukan hanya titik pemberangkatan yang sama tetapi sama pentingnya, sudut pandang yang sama. Mari kita samakan sudut pandang mulai dengan menyepakati siapa sebenarnya yang dimaksud Ki Sunda, sedang dalam keadaan bagaimana sekarang ini dan apa yang dikehendakinya.

Di samping banyak dari kita yang sudah biasa mendengar dan menggunakan kata "Ki Sunda", hampir sama banyaknya yang masih bertanya-tanya mengapa memakai gelar "Ki" dan siapa sebenarnya "Ki Sunda" itu. "Ki" adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa, tetapi berusia lebih muda dari penyapa (Kamus Umum Basa Sunda BSS). Walau saya tidak tahu siapa yang pertama kali memberikannya dan kapan mulainya, saya yakin bahwa yang memberikan sapaan tidak menganggap Sunda lebih muda daripadanya, melainkan semata-mata dengan tujuan menghormat. Apakah yang dimaksud seluruh urang Sunda? Bisa saja, tetapi menurut perasaan saya, hampir sama dengan pendapat Dhipa, ada yang lebih khusus dari yang umum itu, yaitu sekelompok urang Sunda yang mencintai Sunda dan memperjuangkan kemuliaan Sunda. Mereka yang lebih pantas mendapat penghormatan itu. Mereka adalah elitenya urang Sunda.

Dalam kaitan ini Mira banyak menggunakan istilah roh Sunda atau roh kesundaan. Kalau yang disebut roh Sunda itu memang ada, saya yakin sekali sebelum roh Sunda itu lahir ada roh lain yang mendahuluinya yaitu roh dari Allah yang ditiupkan kepada setiap insan tatkala baru berumur sekira 100 hari dan masih berada dalam rahim ibunya (Q.S. 23:14 dan hadis qudsi tentang penciptaan manusia). Roh itu mengajak setiap manusia bertauhid kepada Allah walau dalam kenyataan banyak di antaranya yang membangkang. Manusia yang dikelompok-kelompok dalam berbagai bangsa diberi tempat menurut ketentuan Tuhan sendiri untuk menjalani kehidupan masing-masing. Alam sekitar tempat, keyakinan, dan filsafat hidup bangsa itu mewarnai roh asal tadi dan muncullah roh bangsa (ruh Sunda) yang mewujud menjadi budaya. Roh ini bisa ada kesamaannya dengan roh bangsa lain, tetapi perbedaannya pasti akan akan lebih banyak lagi.

Mengingat sejak sebelum Islam masuk ke tatar Sunda, urang Sunda sudah mempunyai keyakinan dan filsafat hidup (agama Sunda?) yang monoteistis seperti intinya ajaran Islam. Maka kalau kita menyebut Ki Sunda haruslah diartikan elite urang Sunda yang pantas dihormati karena mencintai dan memperjuangkan kemuliaan Sunda sebagai tanda bersyukur kepada Sang Pencipta. Itulah Ki Sunda. Roh yang menyemangati sepak terjang dan berembus dari kedalaman Ki Sunda. Menurut pemahaman saya, itulah roh Sunda. Semua produk Ki Sunda akan bermuatan roh itu.

Apakah Ki Sunda sudah punah (mati)? Benar, dalam sejarah kemanusiaan banyak kaum yang telah dipunahkan atau dibinasakan Allah SWT. Penyebabnya sama, kaum itu telah secara total membelakangi Tuhan. Punah atau mati atau dibinasakan bagi kaum yang mengalaminya adalah kiamat sagir. Kita harus percaya kepada apa yang disabdakan Nabi saw., "Belum akan terjadi kiamat sebelum timbul peperangan besar antara dua pasukan besar, antara keduanya timbul perang besar sedang seruan keduanya sama" (H.R. Bukhari). Dalam konteks kepunahan Sunda saya memahaminya tidak akan punah kaum Sunda, sebelum ada perang besar antara sesama Sunda dan seagama. Alhamdulillah sampai sekarang, dan mudah-mudahan untuk seterusnya, tidak terjadi perang saudara di antara urang Sunda.

Elite Sunda atau Ki Sunda dari generasi-generasi terdahulu bisa jadi sudah tiada. Tetapi yang punah itu bukan elitenya melainkan orang-orangnya. Bukan pula karena membelakangi Allah, melainkan karena waktunya sudah datang. Di sini berlaku pepatah, "Patah tumbuh hilang berganti. Sepanjang tidak terjadi perang saudara antara sesama Sunda dan sekeyakinan, selama itu pula kaum Sunda akan eksis dan selama itu pula Ki Sunda mustahil punah. Insya Allah.

Kaus ketat yang lebih populer dari kebaya Sunda dan berkurangnya pemakai bahasa Sunda di kalangan orang Sunda sendiri belum bisa diartikan bukti Sunda berada di ambang kepunahan. Benar kata Dhipa, tidak perlu kita mempermasalahkan kaus atau kebayanya, tetapi kesannya. Sebab, kalau model dan bentuknya yang akan dipermasalahkan apa yang hendak kita katakan mengenai rok dan blus, yang bukan asli pakaian Sunda tetapi sudah puluhan, bahkan bisa jadi ratusan tahun telah menjadi pakaian sehari-hari mojang-mojang Sunda?

Juga tentang pantalon, setelan jas, dan dasinya yang sudah lama biasa dipakai pria-pria Sunda. Tentang kesan sensualitas yang ditimbulkan kaus ketat pun sebenarnya tidak ada perlunya dipermasalahkan. Sebab, apa bedanya dengan kebaya yang sering dibuat ketat dan lahak diserasikan dengan kain panjang yang sama ketatnya sehingga mampu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh? Berkurangnya pemakai bahasa Sunda memang seharusnya diprihatinkan. Tetapi tidak perlu dibesar-besarkan sebagai pengantar Ki Sunda ke ambang kepunahannya. Basa memang ciciren bangsa, tetapi bukan satu-satunya.

Geliatnya sekelompok urang Sunda tidak bisa dimungkiri memang sekarang sudah terasa. Terlepas dari apakah geliat itu merupakan proses penyembuhan dari yang sedang gering nangtung atau geliat lulungu orang bangun dari tidur panjang, atau geliat sedang berlangsungnya proses "patah tumbuh, hilang berganti" tak pelak lagi menunjukkan adanya kehidupan Ki Sunda yang patut disyukuri. Karena itu, kepada mereka yang berkata Ki Sunda berada di ambang kepunahan atau bahkan sudah punah, layak diucapkan, Na'udzubillahi min dzalik!!! Ssssst! Jaga mulut Anda!

Dengan keyakinan akan benarnya ungkapan orang Barat you are what you said, so watch your mouth mungkin sekali Mira akan menambahkan, "Kalau Anda, sebagai orang Sunda mengatakan Ki Sunda sudah mati atau sekurang-kurangnya sedang sekarat atau sudah putus asa atau sedang tidur panjang, Anda termasuk di dalamnya. Persamaan yang sangat menonjol antara mati, sekarat (di ambang kepunahan), putus asa dan tidur panjang adalah ketidakberdayaan". Saya sendiri akan cenderung mengatakan, "Ih, palias teuing. Sieun katuliskeun jurig!" Nabi Muhammad saw., kepercayaan dan panutan kita sudah bersabda, "Kata-katamu adalah doamu!"

Mudah-mudahan kita semua sepakat, memang ada geliat perjuangan menjayakan kembali Ki Sunda di bidang poleksosbud. Perjuangan ini pasti nangtang pati, dalam arti memerlukan keuletan, kesabaran, dan pengorbanan karena memerlukan waktu yang lama dan bukan mudah. Sekali-kali bukan perjuangan melawan angin.

Kalau ini disepakati, mari kita teruskan dengan menyamakan persepsi tentang apa yang dikehendaki oleh Ki Sunda. Ki Sunda dengan karakteristik seperti digambarkan di atas, tidak bisa tidak pasti bercita-cita menjadi yang termulia di antara bangsa, paling sedikit di antara bangsa-bangsa pemilik NKRI tercinta ini. Sekalipun belum sampai ke tujuan akhir, perjuangannya sendiri akan memberikan saham yang sangat besar -- kalau bukan yang menentukan -- dalam mencapai cita-cita Pemda Jabar yang hendak menjadikan Jabar provinsi termaju dalam tahun 2010.

Perjuangan ini tidak akan bisa selesai oleh satu generasi. Tetapi segala perolehan suatu generasi akan bernilai sangat tinggi bagi generasi-generasi berikutnya. Sasaran antara yang konkret satrategis yang harus dan bisa dicapai oleh generasi sekarang adalah mencegah perang saudara sekecil dan dalam bentuk apa pun lewat jalan menyamakan persepsi, menyatukan segenap daya dan tenaga, mengoordinasikan langkah dan masing-masing tetap aktif di bidangnya masing-masing. Dur panjak!!!***

batik sunda

Batik Tulis Tradisional Sunda ”Garutan”

BATIK tradisional Garut atau lebih dikenal dengan sebutan batik "Garutan" mulai surut sehingga perlu dipertahankan keberadaannya. Pertimbangannya bukan sekadar dari sisi bisnis tetapi kerajinan tersebut merupakan aset kerajinan tradisional Sunda yang kian langka akibat terdesak oleh ekonomi kapitalis. Di samping itu adanya keterbatasan pengrajin itu sendiri karena pada umumnya kaum wanita lebih tertarik menjadi buruh pabrik di kota-kota besar. Menurut catatan di kota Garut dari tiga industri sejenis kini hanya tinggal satu yang tetap berproduksi yaitu usaha yang dijalankan oleh Ibu Hajjah Uba Husaodah. Perusahaan tersebut berdiri sejak tahun 1979 dan kini memiliki tenaga perajin sebanyak 45 orang. Sebagian dari jumlah di atas, yakni sekitar 15 orang bekerja langsung di workshop, sedangkan sisanya tersebar di beberapa tempat seperti di Ciledug, Tarogong dan Bentar sebagai pegawai borongan.

Seperti pada umumnya usaha pembatikan lain di Jawa, para pengrajin di Garut pun umumnya kaum wanita. Pekerjaan membatik selain membutuhkan ketelitian tinggi juga mesti didasari cita rasa seni yang memadai. Tanpa memiliki kedua aspek di atas rasanya agak mustahil menjadi perajin batik tulis. Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka pilihan tenaga kerja wanita merupakan sebuah pilihan yang tepat. Namun ada juga satu orang tenaga pria yang berprofesi sebagai pembatik di workshop Ibu Uba tersebut. Beberapa pekerja wanita memilih mengerjakannya di rumah masing-masing sehingga mereka masih bisa melaksanakan pekerjaan rutin rumah tangganya. Mereka disebut pekerja borongan dan setelah rampung pekerjaan tersebut disetorkan kepada pemilik perusahaan. Seorang perajin batik tulis "rumahan" rata-rata mampu menyelesaikan 1 potong kain ukuran 110 x 260 cm. Sedangkan untuk pengerjaan batik cap dalam 1 minggu dapat dihasilkan 3 kodi atau 60 helai. Mereka hanya mendapat upah kerja, mengenai kebutuhan bahan seperti kain, malam dan canting seluruhnya disediakan pihak pengusaha. Cara pengupahan dilakukan dengan sistem borongan sesuai dengan tingkat kesulitan motif maupun jenis bahannya. Bahan dari ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dinilai pengerjaannya lebih sulit dibanding bahan lainnya. Dengan sendirinya upahnya pun lebih mahal. Sedangkan upah batik cap lebih murah namun jumlah pesanannya lebih banyak .Biasanya bahan tersebut untuk keperluan seragam.

Proses produksi

batik tulis

Pekerjaan batik tulis cukup rumit sehingga mesti teliti dan sabar karena prosesnya menuntut demikian. Semakin banyak warna makin sering buka tutup malam. Proses penutupan malam tersebut mesti dilakukan pada kedua bidangnya atau bolak-balik.

Setiap tahapan proses selalu dikontrol dengan teliti oleh seorang asisten, terutama pada saat proses ngabiron.

Tahap pertama proses pembatikan dimulai dengan ngarengreng yakni proses menggambar pada sebuah kain. Kain itu sendiri sudah diberi pola atau batas dan diukur. Mereka menyebutnya sudah "dijidaran". Jadi perajin tinggal melukisnya dengan malam menggunakan alat canting mengikuti pola kasar tersebut. Tampaknya untuk melukis motif atau ragam hias pengisi bidang-bidang kosong atau garis-garis tidak perlu lagi diberi pola, mereka otomatis sudah hafal betul. Fungsi ngajidaran adalah untuk menempatkan motif secara garis besarnya saja. Setelah proses pertama selesai selanjutnya proses nerusan atau neruskeun

Selanjutnya diteruskan dengan ngabiron yaitu menutupi kedua bidang permukaan kain dengan malam agar tidak ada bidang yang masih terbuka atau salah tutup. Proses di atas dilakukan sebelum pencelupan warna. Proses ngabiron sehelai batik berlangsung sekitar 1 minggu. Kain yang sudah dibiron tersebut kemudian ditimbang beratnya untuk mengetahui bahan malam yang sudah digunakan. Rata-rata bahan "malam" (semacam cairan lilin) yang diperlukan ngabiron sehelai kain kurang lebih 1 sampai 1 1/4 kg.. Setelah ngabiron kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan dengan cara mencelupkan pada warna tertentu. Bidang kain yang terbuka atau tidak tertutup oleh malam tersebut yang akan diberi warna. Dalam proses batik warna tertentu dihasilkan dari- misalnya untuk warna hijau pencelupan warna biru dan kuning. Demikian pula untuk warna coklat, soga, gading dan beberapa warna lainnya terbuat dari warna campuran yang memerlukan dua tiga kali proses pencelupan.

Setelah proses pewarnaan dilanjutkan dengan upaya menghilangkan malam tersebut dari kain. Untuk mengelupas malam dari kain disebut proses ngarorod dengan cara direbus di sebuah tungku. Proses membuka dan menutup malam tersebut berulangkali dilakukan sesuai dengan jumlah warna yang diinginkan.

Bahan batik tulis

Bahan yang digunakan terdiri dari berbagai jenis, antara lain ATM, ATBM, Sutra, Thai Silk, Super dan Primassima atau Mori. Namun dalam batik tulis bahan katun lebih banyak digunakan. Di samping itu pun penggunaan bahan disesuaikan dengan permintaan pasar, misalnya konsumen Jakarta yang menggandrungi bahan jenis ATBM. Sedangkan jenis Super Cap banyak diminati oleh konsumen dari Malaysia. Untuk satu stel yang terdiri dari sarung dan selendang batik tulis dari bahan sutra harganya antara Rp. 500.000,- s/d Rp. 1.500.000. Dari bahan ATBM Garut harganya bisa mencapai Rp. 1.300.000,- hingga Rp. 1.600.000,-. Sedangkan untuk batik cap harga yang terendah sekitar Rp. 40.000,- hingga Rp. 75.000,-. Beda bahan otomatis berbeda pula harganya.

Motif batik tulis tradisional "Garutan"

Diperkirakan jumlah motif batik tulis tradisional "Garutan" mencapai 40-an jenis. Belum termasuk berbagai pengembangan baru yang disebut motif hasil modifikasi. Cara terakhir dengan cara berusaha menyesuaikan dengan kebutuhannya. Beberapa contoh motif tersebut antara lain, Lereng Doktor, Lereng Jaksa, Lereng Perahu, Lereng Cerutu, Lereng Adumanis, Lereng Barong, Bulu Hayam, Cupat Manggu, Mojang Priangan, Limas, Siki Bonteng, Merak Ngibing dan Sido Mukti ataupun motif hasil modifikasi seperti Tanjung Anom dan Tumpal. Bentuk Tumpal yang berbentuk segitiga sama kaki dengan banyak diketemukan pada ragam hias candi di Jawa Timur. Hal ini menunjukan pengaruh Jawa masih kuat. Menurut Ibu Melanie motif yang banyak digemari konsumen atau disebut paling "top" adalah motif-motif lama seperti Bulu Hayam, Merak Ngibing dan Sido Mukti. Motif Bulu Hayam mengambil objeknya dari ekor ayam jantan yang panjang dan dilengkungkan setengah lingkaran. Selanjutnya lengkungan tersebut disusun berjajar horizontal dan jajaran kedua -yang di atasnya- digeser dan dimulai dari tengah-tengah lengkungan bawahnya. Sepintas seperti susunan sirip ikan. Bidang lengkungan di sisi dengan berbagai motif yang ditempatkan secara acak sehingga membentuk sebuah komposisi ritmik. Bentuk bulu ayam terbuat dari warna cokelat tua selain menonjol juga memberi kesan motif tua atau kuno.Motif Merak Ngibing menggambarkan dua pasang burung Merak sedang menari. Sepintas objeknya seperti burung Phoenix yang terdapat pada batik-batik Pesisir yang dipengaruhi oleh Cina. Hanya bedanya pada batik "Garutan" lebih sederhana penggambarannya

Motif Lereng merupakan yang paling dominan, yakni bentuk hiasan yang diletakkan miring atau diagonal dan nama-nama belakang yang berbeda tersebut konon disesuaikan dengan pemesannya semula, yakni seorang Dokter dan Jaksa. Demikian pula Lereng -lereng yang lainnya. Umumnya pola motif Lereng hampir sama berupa pengulangan bentuk-bentuk tertentu. Motif Lerengan pada batik Jawa disebut motif Parang .

Sebagai pemisah antara Lereng yang satu dengan lainnya terdapat batas yang disebut Balinjo. Bentuk atau warna Balinjo umumnya memanfaatkan ruang pembatas tersebut dan berfungsi untuk membedakan. Balinjo ada yang diberi warna berbeda atau sekadar noktah atau titik sehingga motif Lereng-nya bisa lebih tampak atau menonjol.

Motif lainnya adalah Sido Mukti, yaitu bentuk kotak-kotak vertikal yang bertumpu pada salah satu ujungnya. Variasi dari motif tersebut antara lain cara mengisi bagian tengahnya dengan gambar atau motif bunga Melati sedang mekar. Penggambarannya tampak atas sehingga berupa kontur-kontur berbentuk bunga. Seluruh sisinya diberi hiasan berbentuk lonjong menyerupai daun. Batik tulis motif di atas disebut Sido Mukti Melati. Ada pula nama motif yang dikaitkan warna, misalnya motif Sido Mukti Sawat Gadingan, yakni warna "gading" paling disukai dan termasuk warna gading warna khas Garut. Disamping warna Biru dan Soga. Yang termasuk warana Soga antara lain Merah, Merah Maroon, Merah Bata serta Coklat muda. Berdasarkan pengamatan warna-warna khas batik "pedalaman" banyak dipengaruhi lingkungan alam sekitarnya seperti warna-warna tumbuhan, pohon, tanah dan gunung sehingga jarang menggunakan warna cerah. Berbeda dengan batik Jawa, nada warna batik "Garutan" lebih "kalem", tidak kontras seperti penggunaan warna Gading, Merah Bata, atau Coklat muda. Warna-warna "kalem" tersebut ternyata disukai konsumen asing.***

Bahasa Sunda


Lenyapnya bahasa ibu, dengan demikian, akan membuat seseorang tak bisa lagi masuk ke dalam dunia yang menjadi identitas kulturnya, tempat di situ tersimpan berbagai sumber pengetahuan. Dan inilah yang telah terjadi dengan suku Zaparo, sebuah suku terbesar di Amazona. Mereka telah kehilangan sumber pengetahuan tradisional tentang obat-obatan tak hanya karena meninggalnya kepala suku mereka yang juga seorang dukun.

SEBAGAI satu dari 289 buah bahasa daerah yang masih hidup di Indonesia dan sebagai satu dari 13 buah bahasa daerah yang berpenutur di atas satu juta orang, bahasa Sunda rasanya termasuk bahasa yang paling dicemaskan kematiannya. Setidaknya nada minor terhadap kemerosotan penggunaan bahasa ini terus didendangkan dari waktu ke waktu.

Telitian sederhana yang dilakukan Kepala Balai Bahasa Bandung, Drs. Muh Abdul Khak, M.Hum. kembali menunjukkan nada minor yang sama. Objek penelitian Abdul Khak adalah keluarga Sunda-Sunda (suami-istri berasal dari suku Sunda) di sejumlah perumahan di Bandung. “Respondennya tinggal di kompleks perumahan-perumahan. Besar kemungkinan, penelitian yang sama terhadap penduduk yang tidak tinggal di kompleks menghasilkan angka berbeda,” kata Abdul Khak, Kamis (16/2).

Dari hasil penelitiannya terlihat, generasi pertama keluarga Sunda-Sunda masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa primernya. Sedangkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa sekundernya. Akan tetapi, penguasaan bahasa Sunda generasi kedua keluarga ini selanjutnya menurun.

Banyak yang kemudian berkomunikasi dengan anak-anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal itu rupanya berdampak pada rendahnya penguasaan bahasa Sunda generasi ketiga keluarga Sunda-Sunda itu. Kecenderungan yang terjadi berikutnya seperti sebuah serangan balik, bahasa Indonesia mulai menggantikan bahasa Sunda menjadi bahasa primer mereka.

Apa penyebab pergeseran semacam itu? Sebabnya bisa berbeda-beda. Bisa karena munculnya industri seperti hasil penelitian Keller (1964). Cooper (1978) menunjukkan bahwa peran bahasa yang menjadi lingua franca (dalam hal ini termasuk bahasa Indonesia) yang mendesak bahasa daerah. Sumarsono (1993) menyebutkan bahwa agamalah yang bisa mendukung pemertahanan bahasa daerah. Dalam penelitian Abdul Khak, kendalanya adalah undak usuk basa. Tapi, tentu saja, penyebabnya tidak tunggal.

Persoalannya kini, bagaimana mengatasinya? Guru Besar Universitas Indonesia, Asim Gunarwan mengutip sebuah penelitian, menyebutkan bahwa formula yang ditawarkan untuk pemertahanan bahasa daerah itu sering kali kurang signifikan untuk membuat bahasa itu bertahan.

Solusi yang ditawarkan umpamanya, melalui pelestarian seni budaya, pengajaran bahasa-bahasa daerah di sekolah, menggunakan huruf/aksara daerah di tempat publik seperti di Tasikmalaya, atau mewajibkan warga berbahasa daerah setiap tanggal tertentu seperti dilakukan di Banten. Semua solusi itu, menurut Asim, tidak signifikan membantu bahasa daerah.

Yang paling signifikan adalah justru yang paling murah, yaitu orang tua harus tetap menggunakan bahasa daerah kepada anak-anaknya di rumah. Cara ini berguna untuk menjaga agar tidak terjadi dislokasi antargenerasi pewarisan bahasa daerah. Soalnya, bagaimana mau menggunakan bahasa Sunda kalau kemampuan berbahasa Sunda si orang tuanya sudah merosot. Bahasa Sunda seperti apa yang kemudian lahir dari generasi semacam itu?

**

SEMENTARA di tempat lain, kosakata baru terus hadir. Umumnya diserap dari bahasa Inggris. Berbagai kosakata bahasa Indonesia segera saja terasa kuno atau kampungan dan hanya hidup di halaman-halaman kamus. Di mana di dunia seperti itu bahasa daerah hidup? Kita sepertinya tengah bergerak dari kampung, menuju kota, dan kini berambisi ke luar negeri. Bahasa daerah digunakan sekali-sekali sebagai bahasa udik saat kita mudik.

Dalam kondisi seperti itu, upaya yang dilakukan Pusat Bahasa menjadi menarik. Bahasa-bahasa yang tinggal di udik itu kini ditawarkan untuk secara resmi menjadi kosakata bahasa Indonesia. Dari Jawa Barat, lewat Balai Bahasa Bandung, lebih dari lima ratus kata dalam bahasa Sunda diusulkan untuk menjadi bahasa Indonesia.

Ratusan bahasa lainnya diusulkan dari seluruh penjuru tanah air. Untuk apa? Untuk sebuah projek ambisius bernama “Kamus Sangat Sangat Besar Bahasa Indonesia” karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kita tidak tahu, apakah upaya semacam itu akan membantu memperkuat bahasa Sunda