Tuesday, June 07, 2011

Etnis Sunda ?

Etnis Sunda bukan muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakan Allah SWT bersama-sama etnis yang lain dengan maksud saling mengenal. Yang paling mulia dari antara bangsa-bangsa itu ialah yang paling takwa (Q.S. 49:13). Orang Sunda mencintai Sunda dan segala yang berkait kepadanya, merupakan tanda syukur kepada Penciptanya. Karena itu, perjuangan Ki Sunda memuliakan Sunda bisa menjadi ibadah.

Kata orang bijak, “Sebuah peperangan dimulai di satu ruangan.” Walau tidak semua pembicaraan mewujud, tetap bangkitnya Sunda akan merupakan suatu peristiwa besar dan pasti akan berawal dari wacana. Agar wacana kita bisa menjadi kenyataan yang menguntungkan, bukan hanya marebutkeun paisan kosong mari kita arahkan wacana kita ke sana. Untuk itu diperlukan bukan hanya titik pemberangkatan yang sama tetapi sama pentingnya, sudut pandang yang sama. Mari kita samakan sudut pandang mulai dengan menyepakati siapa sebenarnya yang dimaksud Ki Sunda, sedang dalam keadaan bagaimana sekarang ini dan apa yang dikehendakinya.

Di samping banyak dari kita yang sudah biasa mendengar dan menggunakan kata “Ki Sunda”, hampir sama banyaknya yang masih bertanya-tanya mengapa memakai gelar “Ki” dan siapa sebenarnya “Ki Sunda” itu. “Ki” adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa, tetapi berusia lebih muda dari penyapa (Kamus Umum Basa Sunda BSS). Walau saya tidak tahu siapa yang pertama kali memberikannya dan kapan mulainya, saya yakin bahwa yang memberikan sapaan tidak menganggap Sunda lebih muda daripadanya, melainkan semata-mata dengan tujuan menghormat. Apakah yang dimaksud seluruh urang Sunda? Bisa saja, tetapi menurut perasaan saya, hampir sama dengan pendapat Dhipa, ada yang lebih khusus dari yang umum itu, yaitu sekelompok urang Sunda yang mencintai Sunda dan memperjuangkan kemuliaan Sunda. Mereka yang lebih pantas mendapat penghormatan itu. Mereka adalah elitenya urang Sunda.

Dalam kaitan ini Mira banyak menggunakan istilah roh Sunda atau roh kesundaan. Kalau yang disebut roh Sunda itu memang ada, saya yakin sekali sebelum roh Sunda itu lahir ada roh lain yang mendahuluinya yaitu roh dari Allah yang ditiupkan kepada setiap insan tatkala baru berumur sekira 100 hari dan masih berada dalam rahim ibunya (Q.S. 23:14 dan hadis qudsi tentang penciptaan manusia). Roh itu mengajak setiap manusia bertauhid kepada Allah walau dalam kenyataan banyak di antaranya yang membangkang. Manusia yang dikelompok-kelompok dalam berbagai bangsa diberi tempat menurut ketentuan Tuhan sendiri untuk menjalani kehidupan masing-masing. Alam sekitar tempat, keyakinan, dan filsafat hidup bangsa itu mewarnai roh asal tadi dan muncullah roh bangsa (ruh Sunda) yang mewujud menjadi budaya. Roh ini bisa ada kesamaannya dengan roh bangsa lain, tetapi perbedaannya pasti akan akan lebih banyak lagi.

Mengingat sejak sebelum Islam masuk ke tatar Sunda, urang Sunda sudah mempunyai keyakinan dan filsafat hidup (agama Sunda?) yang monoteistis seperti intinya ajaran Islam. Maka kalau kita menyebut Ki Sunda haruslah diartikan elite urang Sunda yang pantas dihormati karena mencintai dan memperjuangkan kemuliaan Sunda sebagai tanda bersyukur kepada Sang Pencipta. Itulah Ki Sunda. Roh yang menyemangati sepak terjang dan berembus dari kedalaman Ki Sunda. Menurut pemahaman saya, itulah roh Sunda. Semua produk Ki Sunda akan bermuatan roh itu.

Apakah Ki Sunda sudah punah (mati)? Benar, dalam sejarah kemanusiaan banyak kaum yang telah dipunahkan atau dibinasakan Allah SWT. Penyebabnya sama, kaum itu telah secara total membelakangi Tuhan. Punah atau mati atau dibinasakan bagi kaum yang mengalaminya adalah kiamat sagir. Kita harus percaya kepada apa yang disabdakan Nabi saw., “Belum akan terjadi kiamat sebelum timbul peperangan besar antara dua pasukan besar, antara keduanya timbul perang besar sedang seruan keduanya sama” (H.R. Bukhari). Dalam konteks kepunahan Sunda saya memahaminya tidak akan punah kaum Sunda, sebelum ada perang besar antara sesama Sunda dan seagama. Alhamdulillah sampai sekarang, dan mudah-mudahan untuk seterusnya, tidak terjadi perang saudara di antara urang Sunda.

Elite Sunda atau Ki Sunda dari generasi-generasi terdahulu bisa jadi sudah tiada. Tetapi yang punah itu bukan elitenya melainkan orang-orangnya. Bukan pula karena membelakangi Allah, melainkan karena waktunya sudah datang. Di sini berlaku pepatah, “Patah tumbuh hilang berganti. Sepanjang tidak terjadi perang saudara antara sesama Sunda dan sekeyakinan, selama itu pula kaum Sunda akan eksis dan selama itu pula Ki Sunda mustahil punah. Insya Allah.

Kaus ketat yang lebih populer dari kebaya Sunda dan berkurangnya pemakai bahasa Sunda di kalangan orang Sunda sendiri belum bisa diartikan bukti Sunda berada di ambang kepunahan. Benar kata Dhipa, tidak perlu kita mempermasalahkan kaus atau kebayanya, tetapi kesannya. Sebab, kalau model dan bentuknya yang akan dipermasalahkan apa yang hendak kita katakan mengenai rok dan blus, yang bukan asli pakaian Sunda tetapi sudah puluhan, bahkan bisa jadi ratusan tahun telah menjadi pakaian sehari-hari mojang-mojang Sunda?

Juga tentang pantalon, setelan jas, dan dasinya yang sudah lama biasa dipakai pria-pria Sunda. Tentang kesan sensualitas yang ditimbulkan kaus ketat pun sebenarnya tidak ada perlunya dipermasalahkan. Sebab, apa bedanya dengan kebaya yang sering dibuat ketat dan lahak diserasikan dengan kain panjang yang sama ketatnya sehingga mampu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh? Berkurangnya pemakai bahasa Sunda memang seharusnya diprihatinkan. Tetapi tidak perlu dibesar-besarkan sebagai pengantar Ki Sunda ke ambang kepunahannya. Basa memang ciciren bangsa, tetapi bukan satu-satunya.

Geliatnya sekelompok urang Sunda tidak bisa dimungkiri memang sekarang sudah terasa. Terlepas dari apakah geliat itu merupakan proses penyembuhan dari yang sedang gering nangtung atau geliat lulungu orang bangun dari tidur panjang, atau geliat sedang berlangsungnya proses “patah tumbuh, hilang berganti” tak pelak lagi menunjukkan adanya kehidupan Ki Sunda yang patut disyukuri. Karena itu, kepada mereka yang berkata Ki Sunda berada di ambang kepunahan atau bahkan sudah punah, layak diucapkan, Na’udzubillahi min dzalik!!! Ssssst! Jaga mulut Anda!

Dengan keyakinan akan benarnya ungkapan orang Barat you are what you said, so watch your mouth mungkin sekali Mira akan menambahkan, “Kalau Anda, sebagai orang Sunda mengatakan Ki Sunda sudah mati atau sekurang-kurangnya sedang sekarat atau sudah putus asa atau sedang tidur panjang, Anda termasuk di dalamnya. Persamaan yang sangat menonjol antara mati, sekarat (di ambang kepunahan), putus asa dan tidur panjang adalah ketidakberdayaan”. Saya sendiri akan cenderung mengatakan, “Ih, palias teuing. Sieun katuliskeun jurig!” Nabi Muhammad saw., kepercayaan dan panutan kita sudah bersabda, “Kata-katamu adalah doamu!”

Mudah-mudahan kita semua sepakat, memang ada geliat perjuangan menjayakan kembali Ki Sunda di bidang poleksosbud. Perjuangan ini pasti nangtang pati, dalam arti memerlukan keuletan, kesabaran, dan pengorbanan karena memerlukan waktu yang lama dan bukan mudah. Sekali-kali bukan perjuangan melawan angin.

Kalau ini disepakati, mari kita teruskan dengan menyamakan persepsi tentang apa yang dikehendaki oleh Ki Sunda. Ki Sunda dengan karakteristik seperti digambarkan di atas, tidak bisa tidak pasti bercita-cita menjadi yang termulia di antara bangsa, paling sedikit di antara bangsa-bangsa pemilik NKRI tercinta ini. Sekalipun belum sampai ke tujuan akhir, perjuangannya sendiri akan memberikan saham yang sangat besar — kalau bukan yang menentukan — dalam mencapai cita-cita Pemda Jabar yang hendak menjadikan Jabar provinsi termaju dalam tahun 2010.

Perjuangan ini tidak akan bisa selesai oleh satu generasi. Tetapi segala perolehan suatu generasi akan bernilai sangat tinggi bagi generasi-generasi berikutnya. Sasaran antara yang konkret satrategis yang harus dan bisa dicapai oleh generasi sekarang adalah mencegah perang saudara sekecil dan dalam bentuk apa pun lewat jalan menyamakan persepsi, menyatukan segenap daya dan tenaga, mengoordinasikan langkah dan masing-masing tetap aktif di bidangnya masing-masing. Dur panjak!!!***

batik sunda

Batik Tulis Tradisional Sunda ”Garutan”

BATIK tradisional Garut atau lebih dikenal dengan sebutan batik “Garutan” mulai surut sehingga perlu dipertahankan keberadaannya. Pertimbangannya bukan sekadar dari sisi bisnis tetapi kerajinan tersebut merupakan aset kerajinan tradisional Sunda yang kian langka akibat terdesak oleh ekonomi kapitalis. Di samping itu adanya keterbatasan pengrajin itu sendiri karena pada umumnya kaum wanita lebih tertarik menjadi buruh pabrik di kota-kota besar. Menurut catatan di kota Garut dari tiga industri sejenis kini hanya tinggal satu yang tetap berproduksi yaitu usaha yang dijalankan oleh Ibu Hajjah Uba Husaodah. Perusahaan tersebut berdiri sejak tahun 1979 dan kini memiliki tenaga perajin sebanyak 45 orang. Sebagian dari jumlah di atas, yakni sekitar 15 orang bekerja langsung di workshop, sedangkan sisanya tersebar di beberapa tempat seperti di Ciledug, Tarogong dan Bentar sebagai pegawai borongan.

Seperti pada umumnya usaha pembatikan lain di Jawa, para pengrajin di Garut pun umumnya kaum wanita. Pekerjaan membatik selain membutuhkan ketelitian tinggi juga mesti didasari cita rasa seni yang memadai. Tanpa memiliki kedua aspek di atas rasanya agak mustahil menjadi perajin batik tulis. Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka pilihan tenaga kerja wanita merupakan sebuah pilihan yang tepat. Namun ada juga satu orang tenaga pria yang berprofesi sebagai pembatik di workshop Ibu Uba tersebut. Beberapa pekerja wanita memilih mengerjakannya di rumah masing-masing sehingga mereka masih bisa melaksanakan pekerjaan rutin rumah tangganya. Mereka disebut pekerja borongan dan setelah rampung pekerjaan tersebut disetorkan kepada pemilik perusahaan. Seorang perajin batik tulis “rumahan” rata-rata mampu menyelesaikan 1 potong kain ukuran 110 x 260 cm. Sedangkan untuk pengerjaan batik cap dalam 1 minggu dapat dihasilkan 3 kodi atau 60 helai. Mereka hanya mendapat upah kerja, mengenai kebutuhan bahan seperti kain, malam dan canting seluruhnya disediakan pihak pengusaha. Cara pengupahan dilakukan dengan sistem borongan sesuai dengan tingkat kesulitan motif maupun jenis bahannya. Bahan dari ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dinilai pengerjaannya lebih sulit dibanding bahan lainnya. Dengan sendirinya upahnya pun lebih mahal. Sedangkan upah batik cap lebih murah namun jumlah pesanannya lebih banyak .Biasanya bahan tersebut untuk keperluan seragam.

Proses produksi

batik tulis

Pekerjaan batik tulis cukup rumit sehingga mesti teliti dan sabar karena prosesnya menuntut demikian. Semakin banyak warna makin sering buka tutup malam. Proses penutupan malam tersebut mesti dilakukan pada kedua bidangnya atau bolak-balik.

Setiap tahapan proses selalu dikontrol dengan teliti oleh seorang asisten, terutama pada saat proses ngabiron.

Tahap pertama proses pembatikan dimulai dengan ngarengreng yakni proses menggambar pada sebuah kain. Kain itu sendiri sudah diberi pola atau batas dan diukur. Mereka menyebutnya sudah “dijidaran”. Jadi perajin tinggal melukisnya dengan malam menggunakan alat canting mengikuti pola kasar tersebut. Tampaknya untuk melukis motif atau ragam hias pengisi bidang-bidang kosong atau garis-garis tidak perlu lagi diberi pola, mereka otomatis sudah hafal betul. Fungsi ngajidaran adalah untuk menempatkan motif secara garis besarnya saja. Setelah proses pertama selesai selanjutnya proses nerusan atau neruskeun

Selanjutnya diteruskan dengan ngabiron yaitu menutupi kedua bidang permukaan kain dengan malam agar tidak ada bidang yang masih terbuka atau salah tutup. Proses di atas dilakukan sebelum pencelupan warna. Proses ngabiron sehelai batik berlangsung sekitar 1 minggu. Kain yang sudah dibiron tersebut kemudian ditimbang beratnya untuk mengetahui bahan malam yang sudah digunakan. Rata-rata bahan “malam” (semacam cairan lilin) yang diperlukan ngabiron sehelai kain kurang lebih 1 sampai 1 1/4 kg.. Setelah ngabiron kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan dengan cara mencelupkan pada warna tertentu. Bidang kain yang terbuka atau tidak tertutup oleh malam tersebut yang akan diberi warna. Dalam proses batik warna tertentu dihasilkan dari- misalnya untuk warna hijau pencelupan warna biru dan kuning. Demikian pula untuk warna coklat, soga, gading dan beberapa warna lainnya terbuat dari warna campuran yang memerlukan dua tiga kali proses pencelupan.

Setelah proses pewarnaan dilanjutkan dengan upaya menghilangkan malam tersebut dari kain. Untuk mengelupas malam dari kain disebut proses ngarorod dengan cara direbus di sebuah tungku. Proses membuka dan menutup malam tersebut berulangkali dilakukan sesuai dengan jumlah warna yang diinginkan.

Bahan batik tulis

Bahan yang digunakan terdiri dari berbagai jenis, antara lain ATM, ATBM, Sutra, Thai Silk, Super dan Primassima atau Mori. Namun dalam batik tulis bahan katun lebih banyak digunakan. Di samping itu pun penggunaan bahan disesuaikan dengan permintaan pasar, misalnya konsumen Jakarta yang menggandrungi bahan jenis ATBM. Sedangkan jenis Super Cap banyak diminati oleh konsumen dari Malaysia. Untuk satu stel yang terdiri dari sarung dan selendang batik tulis dari bahan sutra harganya antara Rp. 500.000,- s/d Rp. 1.500.000. Dari bahan ATBM Garut harganya bisa mencapai Rp. 1.300.000,- hingga Rp. 1.600.000,-. Sedangkan untuk batik cap harga yang terendah sekitar Rp. 40.000,- hingga Rp. 75.000,-. Beda bahan otomatis berbeda pula harganya.

Motif batik tulis tradisional “Garutan”

Diperkirakan jumlah motif batik tulis tradisional “Garutan” mencapai 40-an jenis. Belum termasuk berbagai pengembangan baru yang disebut motif hasil modifikasi. Cara terakhir dengan cara berusaha menyesuaikan dengan kebutuhannya. Beberapa contoh motif tersebut antara lain, Lereng Doktor, Lereng Jaksa, Lereng Perahu, Lereng Cerutu, Lereng Adumanis, Lereng Barong, Bulu Hayam, Cupat Manggu, Mojang Priangan, Limas, Siki Bonteng, Merak Ngibing dan Sido Mukti ataupun motif hasil modifikasi seperti Tanjung Anom dan Tumpal. Bentuk Tumpal yang berbentuk segitiga sama kaki dengan banyak diketemukan pada ragam hias candi di Jawa Timur. Hal ini menunjukan pengaruh Jawa masih kuat. Menurut Ibu Melanie motif yang banyak digemari konsumen atau disebut paling “top” adalah motif-motif lama seperti Bulu Hayam, Merak Ngibing dan Sido Mukti. Motif Bulu Hayam mengambil objeknya dari ekor ayam jantan yang panjang dan dilengkungkan setengah lingkaran. Selanjutnya lengkungan tersebut disusun berjajar horizontal dan jajaran kedua -yang di atasnya- digeser dan dimulai dari tengah-tengah lengkungan bawahnya. Sepintas seperti susunan sirip ikan. Bidang lengkungan di sisi dengan berbagai motif yang ditempatkan secara acak sehingga membentuk sebuah komposisi ritmik. Bentuk bulu ayam terbuat dari warna cokelat tua selain menonjol juga memberi kesan motif tua atau kuno.Motif Merak Ngibing menggambarkan dua pasang burung Merak sedang menari. Sepintas objeknya seperti burung Phoenix yang terdapat pada batik-batik Pesisir yang dipengaruhi oleh Cina. Hanya bedanya pada batik “Garutan” lebih sederhana penggambarannya

Motif Lereng merupakan yang paling dominan, yakni bentuk hiasan yang diletakkan miring atau diagonal dan nama-nama belakang yang berbeda tersebut konon disesuaikan dengan pemesannya semula, yakni seorang Dokter dan Jaksa. Demikian pula Lereng -lereng yang lainnya. Umumnya pola motif Lereng hampir sama berupa pengulangan bentuk-bentuk tertentu. Motif Lerengan pada batik Jawa disebut motif Parang .

Sebagai pemisah antara Lereng yang satu dengan lainnya terdapat batas yang disebut Balinjo. Bentuk atau warna Balinjo umumnya memanfaatkan ruang pembatas tersebut dan berfungsi untuk membedakan. Balinjo ada yang diberi warna berbeda atau sekadar noktah atau titik sehingga motif Lereng-nya bisa lebih tampak atau menonjol.

Motif lainnya adalah Sido Mukti, yaitu bentuk kotak-kotak vertikal yang bertumpu pada salah satu ujungnya. Variasi dari motif tersebut antara lain cara mengisi bagian tengahnya dengan gambar atau motif bunga Melati sedang mekar. Penggambarannya tampak atas sehingga berupa kontur-kontur berbentuk bunga. Seluruh sisinya diberi hiasan berbentuk lonjong menyerupai daun. Batik tulis motif di atas disebut Sido Mukti Melati. Ada pula nama motif yang dikaitkan warna, misalnya motif Sido Mukti Sawat Gadingan, yakni warna “gading” paling disukai dan termasuk warna gading warna khas Garut. Disamping warna Biru dan Soga. Yang termasuk warana Soga antara lain Merah, Merah Maroon, Merah Bata serta Coklat muda. Berdasarkan pengamatan warna-warna khas batik “pedalaman” banyak dipengaruhi lingkungan alam sekitarnya seperti warna-warna tumbuhan, pohon, tanah dan gunung sehingga jarang menggunakan warna cerah. Berbeda dengan batik Jawa, nada warna batik “Garutan” lebih “kalem”, tidak kontras seperti penggunaan warna Gading, Merah Bata, atau Coklat muda. Warna-warna “kalem” tersebut ternyata disukai konsumen asing.***

bahasa sunda

Lenyapnya bahasa ibu, dengan demikian, akan membuat seseorang tak bisa lagi masuk ke dalam dunia yang menjadi identitas kulturnya, tempat di situ tersimpan berbagai sumber pengetahuan. Dan inilah yang telah terjadi dengan suku Zaparo, sebuah suku terbesar di Amazona. Mereka telah kehilangan sumber pengetahuan tradisional tentang obat-obatan tak hanya karena meninggalnya kepala suku mereka yang juga seorang dukun.

SEBAGAI satu dari 289 buah bahasa daerah yang masih hidup di Indonesia dan sebagai satu dari 13 buah bahasa daerah yang berpenutur di atas satu juta orang, bahasa Sunda rasanya termasuk bahasa yang paling dicemaskan kematiannya. Setidaknya nada minor terhadap kemerosotan penggunaan bahasa ini terus didendangkan dari waktu ke waktu.

Telitian sederhana yang dilakukan Kepala Balai Bahasa Bandung, Drs. Muh Abdul Khak, M.Hum. kembali menunjukkan nada minor yang sama. Objek penelitian Abdul Khak adalah keluarga Sunda-Sunda (suami-istri berasal dari suku Sunda) di sejumlah perumahan di Bandung. “Respondennya tinggal di kompleks perumahan-perumahan. Besar kemungkinan, penelitian yang sama terhadap penduduk yang tidak tinggal di kompleks menghasilkan angka berbeda,” kata Abdul Khak, Kamis (16/2).

Dari hasil penelitiannya terlihat, generasi pertama keluarga Sunda-Sunda masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa primernya. Sedangkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa sekundernya. Akan tetapi, penguasaan bahasa Sunda generasi kedua keluarga ini selanjutnya menurun.

Banyak yang kemudian berkomunikasi dengan anak-anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal itu rupanya berdampak pada rendahnya penguasaan bahasa Sunda generasi ketiga keluarga Sunda-Sunda itu. Kecenderungan yang terjadi berikutnya seperti sebuah serangan balik, bahasa Indonesia mulai menggantikan bahasa Sunda menjadi bahasa primer mereka.

Apa penyebab pergeseran semacam itu? Sebabnya bisa berbeda-beda. Bisa karena munculnya industri seperti hasil penelitian Keller (1964). Cooper (1978) menunjukkan bahwa peran bahasa yang menjadi lingua franca (dalam hal ini termasuk bahasa Indonesia) yang mendesak bahasa daerah. Sumarsono (1993) menyebutkan bahwa agamalah yang bisa mendukung pemertahanan bahasa daerah. Dalam penelitian Abdul Khak, kendalanya adalah undak usuk basa. Tapi, tentu saja, penyebabnya tidak tunggal.

Persoalannya kini, bagaimana mengatasinya? Guru Besar Universitas Indonesia, Asim Gunarwan mengutip sebuah penelitian, menyebutkan bahwa formula yang ditawarkan untuk pemertahanan bahasa daerah itu sering kali kurang signifikan untuk membuat bahasa itu bertahan.

Solusi yang ditawarkan umpamanya, melalui pelestarian seni budaya, pengajaran bahasa-bahasa daerah di sekolah, menggunakan huruf/aksara daerah di tempat publik seperti di Tasikmalaya, atau mewajibkan warga berbahasa daerah setiap tanggal tertentu seperti dilakukan di Banten. Semua solusi itu, menurut Asim, tidak signifikan membantu bahasa daerah.

Yang paling signifikan adalah justru yang paling murah, yaitu orang tua harus tetap menggunakan bahasa daerah kepada anak-anaknya di rumah. Cara ini berguna untuk menjaga agar tidak terjadi dislokasi antargenerasi pewarisan bahasa daerah. Soalnya, bagaimana mau menggunakan bahasa Sunda kalau kemampuan berbahasa Sunda si orang tuanya sudah merosot. Bahasa Sunda seperti apa yang kemudian lahir dari generasi semacam itu?

**

SEMENTARA di tempat lain, kosakata baru terus hadir. Umumnya diserap dari bahasa Inggris. Berbagai kosakata bahasa Indonesia segera saja terasa kuno atau kampungan dan hanya hidup di halaman-halaman kamus. Di mana di dunia seperti itu bahasa daerah hidup? Kita sepertinya tengah bergerak dari kampung, menuju kota, dan kini berambisi ke luar negeri. Bahasa daerah digunakan sekali-sekali sebagai bahasa udik saat kita mudik.

Dalam kondisi seperti itu, upaya yang dilakukan Pusat Bahasa menjadi menarik. Bahasa-bahasa yang tinggal di udik itu kini ditawarkan untuk secara resmi menjadi kosakata bahasa Indonesia. Dari Jawa Barat, lewat Balai Bahasa Bandung, lebih dari lima ratus kata dalam bahasa Sunda diusulkan untuk menjadi bahasa Indonesia.

Ratusan bahasa lainnya diusulkan dari seluruh penjuru tanah air. Untuk apa? Untuk sebuah projek ambisius bernama “Kamus Sangat Sangat Besar Bahasa Indonesia” karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kita tidak tahu, apakah upaya semacam itu akan membantu memperkuat bahasa Sunda

Wayang Golek

Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka (dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan oleh manusia (wayang orang). Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong, dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.

Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabrata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.

Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek selalu diiringi oleh pesinden. Popularitas pesinden pada masa-masa itu sangat tinggi, sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Fatimah sekitar tahun 1960-an. Lakon yang biasa dipertunjukkan dalam wayang golek adalah lakon karangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukkan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.

Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut : 1) Tatalu, dalang dan pesinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara ; 2) Babak Unjal, Paseban dan bebegalan ; 3) Nagara sejen ; 4) Patepah ; 5) Perang gagal ; 6) Panakawan/goro-goro ; 7) Perang Kembang ; 8) Perang raket ; dan 9) Tutug.

Salah satu fungsi wayang di masyarakat adalah ngaruwat (ritus inisiasi), yaitu membersihkan yang diruwat dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal); Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal); Suramba (empat orang putra); Surambi (empat orang putri); Pandawa (lima putra); Pandawi (lima putri); Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra) dsb.

Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun materialnya. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan wayang golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.

teruntuk : Cahaya


Saturday, May 19th, 2007

Ada

yang belum tersapu ombak

Masih melekat sinar bintang

Ada

bayang senja tentang benang merah

Yang terapung di samudra

Kan

ku tulis lagi sajak tanpa akhir

Setelah ku tebus mesin tikku di pegadaian

Malam dan siang sama saja

Tidak di

sana

tidak di sini

Simpony itu mengalun dalam tiap detak jantung

Sebuah nama mengalir dalam darah

Mencemari otak dan merajam hati

Sebenarnya ingin ku teriak di kupingmu

Agar kau tahu keadaanku sekarang ini

“Aku mencintaimu, Anjing!”

Letih jantungku untuk berdetak

Seperti tak sanggup lagi menerima sebuah kejutan

Hujan yang telah melunturkan asaku kini belum reda

Mereka yang tuli jelas tak bisa mendengar jerit mulutku yang serak

Bukan berarti tegar melainkan kering sudah air mata ini

Rangkaian bunga yang diletakan orang lewat

Kini mulai menyesakan paru-paru

Cahaya!, jemput aku dalam ketakberdayaan ini

Siap tidak siap apa bedanya ?

Suatu saat kau pasti akan menjumpaiku juga

Mohon dengan saat….!!!

rembulan dibalik gunung

rembulan dibalik gunung
Tuesday, December 25th, 2007



cita-citaku hanya satu
ingin sakti agar bisa memangkas gunung-gunung itu